Barongan Gugur Daun

Mungkin beberapa mata kurang menyadari betapa menakjubkannya ketika hijau zamrud dan bermacam-macam hijau lainnya berkuasa di dunia. Entah mengapa, ketika kata hutan terlintas di depan fikiran seseorang, maka timbullah masalah di depannya. Penebangan liar, kebakaran, longsor, kepunahan flora-fauna, dan lain-lain. Tidak beda juga denganku, aku juga pernah berfikir begitu.

Itu hanya satu sisi tempat kita memandangnya. Aku sudah hidup bertahun-tahun di kelilingi habitat alam makhluk hidup yang begitu natural, hutan. Hijaunya yang sejuk dan asri. Suasana natural dan suara-suara binatang yang menyenangkan. Hutan adalah sahabatku, sejak aku bisa mengenali semua yang aku lihat. Dan aku bisa menyadari dan merasakan betapa indahnya lautan berwarna zamrud itu, saat aku bisa menjadikannya teman dan mencintainya.

Aku bisa merasakan kesejukan batin yang luar biasa. Dan aku memiliki kedamaian jiwa seumur hidupku dibawah naungan rimbunan barongan atau hutan bambu yang menghijau. Gubukku yang sederhana tapi kokoh berdiri disana, dikelilingi ratusan bambu yang berdiri membungkuk dan bergoyang-goyang bersamaan setiap hari. Aku bisa mendengar alunan musik mendengar yang mendamaikan ketika bambu-bambu itu bergoyang seirama dengan desiran angin yang menerpanya dengan lembut. Beberapa daunnya yang telah menguning menggugurkan diri. Merasa tak pantas dengan tubuhnya yang begitu hijau.

Aku sengaja berjalan dengan menyeret kedua kakiku. Bukan pertanda aku malas, tetapi aku ingin ingin menyapu dedaunan bambu yang telah berserakan di tanah. Mencoba membersihkannya dari jalan setapak yang telah ditutupinya. Lurus kedepan, sekitar dua puluh meter saja, gubuk kokohku berdiri dan menjadi tempat terindah yang bisa terlihat di tengah terowongan barongan yang menyejukkan. Hanya aku dan Abah yang menempatinya. Ibuku sudah tiada sebelum aku bisa menyebutkan namanya dan memanggilnya dengan sebutan ibu. Ibuku adalah wanita cantik berdarah China. Sangat terlihat menawan di dinding kayu rumah tempat Abah memajang foto kusamnya.

Aku bisa tahu bahwa kematian ibu adalah hal terburuk yang pernah terjadi di barongan ini. Disaat barongan ini menggugurkan daunnya. Lalu menjadikannya sebagai masa dimana Abah jatuh di dalam keputus asaan yang gelap. Tapi Abah selalu tahu, meskipun barongan itu gugur daunya, pada saat nya bambu-bambu itu akan menjadi hijau kembali. Daun-daunya akan rimbun dan melindungi siapa saja dari panas dan teriknya matahari yang menyengat. Abah telah memiliki semangat baru dan ia menyayangiku karena bisa melihat ibu dari mataku yang sipit.

Belum saja aku menginjakkan sandalku diteras, Abah yang sedang mengaca sembari meminyaki rambutnya sudah memanggilku.

Aidin!” matanya kini mengarah kepadaku.

Iya, Bah?” sahutku sembari melepas sandal karena alas rumahku bersemen dan halus.

Kamu dari mana saja? Sini, Din!” kata Abahku sambil melambai ke arahku, menyuruhku mendekat padanya.

Maaf, Bah. Tadi Aidin habis dari padepokan. guru Zhang bilang beliau bakal pulang ke China esok, Bah.” Jawabku pelan-pelan. Lalu aku duduk di samping Abah.

Kemudian Abah memberiku alat pencabut bulu atau yang biasa disebut catut yang tadinya di bawanya. Abah meletakkan kaca kecilnya dan berkata.

Carikan uban Abah!

Entah mengapa kalimat perintah yang terlintas dari mulut Abah itu membuat satu detak jantungku terdengar sampai telinga. Abah tak pernah memintaku melakukannya. Aku menurut dan segera menuju punggungnya lalu berdiri dengan lutut meraih kepala Abah. Dengan pelan-pelan aku memilahi rambutnya yang agak berminyak.

Abahmu ini toh sudah tua, nak.” Tutur Abahku. Ada nada sedih tak jelas dalam suaranya. Hal itu menjelaskan kecemasan yang tiba-tiba datang dalam naluri instingku. Aku baru saja berumur lima belas tahun, dan Abah sudah mulai beruban.

Abah rindu sama ibu kamu.” Lanjutnya “Tapi barongannya amat hijau, Din.” Aku mengerutkan kening mendengar kalimatnya. Penasaran dengan apa yang dimaksudkan disana. Aku mengerti aku harus memperhatikan dan mendengarkan baik-baik perkataannya. Maka aku diam sembari masih mencabuti uban-uban di rambut Abah. Aku hampir mendapat sepuluh helai rambut putih tersebut setelah aku merasa diamnya Abah setelah kata terakhirnya mengganjal dalam perasaan.

Maksud Abah apa ya yang tadi?” tanyaku pada akhirnya. Aku merasa Abah tersenyum mendengarnya. Entah apa artinya aku berfirasat apa yang akan dikatakan pendekar yang tak muda lagi ini kurang menyenangkan untuk didengar. Namun, aku mencoba setenang barongan sampai sejauh mataku bisa memandang kehijauannya.

Hemb..” gumam Abah sebentar. “Mungkin dulu Abah sekuat batang bambu yang hijaunya matang dan tua. Masih teguh diatas akarnya. Daunya rimbun dan hijau. Tapi Abah merasa jadi rantingnya kini. Carangnya bambu yang telah menguning dan daunya berguguran.”

Kata-katanya menyentuh dan tedengar lembut menerobos telingaku. Meresap ke dalam hatiku. Aku yang masih belum begitu faham dengan apa yang di maksudnya lalu bertanya.

Kenapa Abah mengibaratkan hidup Abah seperti bambu?” tanyaku dengan nada yang ku buat setenang-tenangnya. “Padahal bambu kan tidak sekokoh pohon beringin bahkan tak lebih kokoh dari pohon pisang. Ketika dipukul dengan Bendo sekali saja, bambu akan tumbang. Tapi Aidin belum pernah mendengar ataupun melihat Abah tumbang dalam sekali pukul ketika bertarung di turnamen bela diri??

Tubuh Abah menegak, nafasnya meninggi. Tetapi begitu pelan, dan aku tahu Abah sedang menghela nafasnya dalam-dalam, udara siang ini memang begitu sejuk dan nyaman di nikmati. Abah lalu menjawab pertanyaan ku yang sarkatis.

Abah kan dibesarkan disini, Din. Barongan dan setiap jengkal hutan ini adalah hidup Abah. Ketika separuh hidup Abah pergi karena meninggalnya ibu kamu. Hutan ini ikut mati. Tapi ibukmu mencintaimu, nak. Hal itu membuat Abah tumbuh kembali. Bambu adalah tanaman yang tak akan mati. Hanya mati ketika kau menggusur rumpunan akarnya. Ibarat jantung pada manusia. Mungkin… “ Abah menghela nafas kembali, aku menyerahkan helai ubannya yang kedua puluh.

Mungkin”, lanjutnya. “Ketika tirai bambu yang membuat dunia kita ini teduh tiba-tiba menguning dan daunnya menjadi hujan. Mungkin pada saat itu Abah akan tiada”.

Aku diam dan berhenti mencabuti uban Abah. Aku tak mengindahkan tuturannya, kenapa Abah berbicara seakan sebentar lagi hidupnya akan berakhir. Abah pun menyadari keterkejutanku. Ia tak curiga, Abah tahu aku akan meresponnya seperti ini.

Maafkan Abah, din. Abah jadi membicarakan tentang kematian Abah…”, runtuk Abah. Dari samping belakang aku bisa melihat matanya yang menjadi sayu.

Abah, hutan mambu ini, akan berakhir di bawah kehendak Tuhan. Begitu pula hidup Abah, dan saat ini Aidin hanya melihat beronganyang indah ini masih berwarna hijau. Bertahan ya Abah, Aidin masih ada untuk Abah”.

***

Dari jendela kayu rumah bambuku, aku memerhatikan sehelai daun bambu yang jatuh tanpa sebab dari pohon bambu yang terdekat. Kuning, indah, namun memberi kesan sedih pada perasaanku. Mengingat-ingat apa yang Abah katakan padaku kemarin. Pada hari ini juga, guru Zhang akan meninggalkan desa dan kembali ke China. Hal itu kini berkecamuk diawal hariku. Aku merasa sedih lagi.

Aidin!”, seseorang telah memanggilku dari belakang. Dan dia adalah Abah. Suaranya pelan dan lembut. Seakan mencoba untuk tidak mengganggu renunganku di balik jendela. Aku membalikkan badan dan menatapnya dengan perasaan sedih yang berlal lalang di dalam perasaanku dan di balik kornea mataku. Aku diam saja, tanpa mengatakan ada apa.

Abah baru tahu, guru Zhang akan pergi sekitar jam sembilan nanti”, aku mengerutkan dahi menatapnya. Bertanya-tanya apa yang dikatakannya itu benar atau tidak. Aku kembali menatap keluar jendela. “Kamu sebaiknya berpamitan dengannya sekarang. Bisa jadi guru Zhang tidak akan kembali lagi ke kampung kita”. Lanjut Abah.

Perkataannya kembali memukulku ke dalam gelapnya pandangan hatiku saat ini. Aku berfikir terlebih dahulu sebelum memutuskan melewati pintu rumah. Aku tidak tahu apa yang harusnya aku perbua. Aku mencoba untuk membuat fikiranku benar-benar kosong. Satu lembar lagi daun bambu jatuh dibawa angin yang semilirnya membuat bulu kudukku tertidur.

Jangan buang waktumu, nak!”, kata Abah mendapati diriku masih mematung di tempat yang sama. Abah kini benar. Aku harus menemui guru Zhang sebelum kakinya melayang diatas barongan dan pergi meninggalkan semua muridnya. Guru pelatih silatku itu pasti senang aku mendatanginya sebelum ia hendak pulang.

Aku balik badan dan mendapati Abah tersenyum lembut. Menggugah hatiku untuk tersenyum. Segera aku mendekat padanya dendan senyum yang sama sekali tak terpaksa. Kuraih dan kucium tangannya. Abah tersenyum sekali lagi dan membiarkanku berlari menjauhi rumah menuju padepokan silat guru Zhang yang jaraknya hampir lima ratus meter dari rumahku. Dengan senang hati aku melangkah agak cepat. Hijaunya hutan menyambutku dengan hangat.

Aku bisa melihat padepokan silat guru Zhang berdiri di kelilingi sunyinya suasan pagi ini. Rumah guru Zhang nampak bersih, asri dan indah. guru Zhang adalah pecinta lingkungan. Pintu kayu rumahnya terbuka lebar. Aku segera mempercepat langkahku dan aku melihat guru Zhang keluar dari rumahnya.

Beliau tersenyum melihat semangatku pagi ini. Sunggingan senyumnya yang hangat menggugahku untuk nyengir lebih lebar. guru Zhang yang tampan menawan menyinari pagi hariku. Aku menghentikan langkahku tepat di depannya dan bibirnya tertarik lebih lebar ke samping memperlihatkan deretan gigi-gigi yang putih dan rapi. Matanya menyipit khas senyum orang China, sampai-sampai terlihat seperti garis melengkung tebal di bawah alisnya. guru Zhang menepuk pundakku.

Saya tahu kamu akan datang kesini, Din.” Kata guru Zhang membuat mataku berkaca-kaca. Pandangannya lalu berpaling dari bola mataku, menatap bentangan hutan yang hidup duapuluh lima meter dari pintu rumahnya. Di wajahnya masih tertera senyuman yang tak mampu kuartikan. Karena tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Tangannya yang masih bertengger di pundakku pun diturunkannya. Lalu digunakannya untuk membenahkan sabuk hitam yang membelit pinggangnya sejenak. Aku menyadari bahwa guru Zhang masih berpakaian pendekar silat.

Guru Zhang menutup matanya, menghembuskan nafas panjang perlahan-lahan. Aku mendongak kagum menatapnya, karena tinggiku hanya mencapai pundaknya. guru Zhang menoleh padaku dan sekali lagi tersenyum hangat. guru Zhang berkata,

Temani saya berkeliling dulu. Boleh kan?”.

Aku mengangguk beberapa kali dengan semangat dan senang. Kemudian kami mengambil langkah menjauhi rumah menuju samudra berwarna zamrud yang masih bermandikan embun. Kami melangkah pelna-pelan tanpa alas kaki. Kurasa guru Zhang ingin menikmati udara kampung yang menyehatkan ini untuk yang kali terakhirnya.

Guru Zhang, kita akan kemana?” tanyaku kepo. Rasanya perjalanan menyapa hutan ini akan menyenangkan jika aku mengajak guru Zhang berbincang-bincang. Aku melihatnya tersenyum.

Saya ingin ke Cigure.” Jawab guru Zhang tenang.

Guru Zhang belum mandi? Kenapa ke air tejun itu?” candaku ringan. Kami berdua pun tertawa renyah.

Iya, saya belum mandi, Din. Saya ingin mandi berlama-lama di Cigure.” Apakah itu sebuah gurauan? Atau benar-benar kata-kata yang jujur?. Aku tertawa kecil meski agak berpenasaran.

bukankah guru Zhang harus berangkat pukul sembilan nanti?” guru Zhang menjawabnya dengan tertawa, padahal aku tidak bercanda.

Ya, Abahmu pasti yang mengatakannya. Saya hanya berbohong agar kau cepat-cepat datang.” Sergah guru Zhang membuatku menertawakan diri sendiri. Namun datang cepat ke padepokan bukanlah kebodohan. Aku senang bisa datang cepat ke sana.

Kamu tahu tidak, Din?” tanya guru Zhang “Pada saatnya kamu tidak bisa berenang di samudera daun seperti ini.

Guru Zhang ingin membicarakan hal-hal yang akan berakhir” jawabku sarkatis. Entah itu mengejutkannya atau tidak. “Abah menceritakan antara hidupnya dan hutan ini yang akan berakhir”, lanjutku. “Padahal aku menyukai hijau dan Aidin merasa, Aidin bisa membuat mata Aidin tetap hijau.”

Hutan memberikan arti hidup yang beribu-ribu. Saya tidak akan tahu apa yang terjadi pada hutan ini dua puluh tahun kemudian.” Tutur Guru Zhang, seolah meramalkan sesuatu. “Dan setiap tetes kekuatan itu akan hilang dan habis.”

Yah…itu mirip dengan yang dikatakan Abah. Aidin ingin tahu.”

Kamu adalah pendekar, Aidin. Ya, kamu harus tahu. Beladiri, silat, dan apapun macamnya memiliki tali jiwa yang kuat dengan sebatang pohon, bambu sekalipun. Ketika tumbang kau harus bangkit lagi. Abahmu dulunya pendekar yang kuat, bagai benteng yang kokoh. Dijuluki Naga Jawa oleh orang-orang awam. Jiwanya bagi rumpunan bambu. Tampak lemah, tapi tak bisa mati. Seperti bambu, jika di lihat dari langit, maka baronganlah yang terlihat berbahaya.”

Itu tetap saja. Bambu itu lemah.” Sergahku. “Kenapa tak mengibaratkan hidup dengan hal lain? Yang lain dan lebih kuat? Dengan bambu, berarti kita membiarkan orang lain menumbangkan kita.

Sekarang aku dan guru Zhang memasuki barongan. Terowongan bambu yang adem ini membuatku agak mengantuk di terpa sepoinya angin pagi. Tiba-tiba jeritan mencuat keluar dari tenggorokanku. Kudapati carang bambu menusuk telapak kakiku dan merobeknya dengan serius. Aku meringis keperihan. Aku jatuh dan segera kutimang kakiku. Darah mengucur keluar, carang yang kuinjak cukup tajam dan menancap cukup dalam menembus kulit tebal telapak kakiku. Aku menariknya keluar dengan kesakitan yang mengiris dadaku. Aku mendesis dan guru Zhang berjongkok di hadapanku.

Bambu yang tumbang..” kata guru Zhang “Tak pernah diwaspadai oleh siapapun. Namun bisa menyakiti begitu dalam. Begitu perih.”

Aku mengeluarkan desisan diiringi teriakan yang tertahan. Aku memeganginya mencoba menahan aliran darahku, akan tetapi darah itu malah menggenang di telapak tanganku. Kulihat guru Zhang mengeluarkan sapu tangan berwarna hitam. Melipatnya ke dalam beberapa lipatan dan menekannya diatas telapak kakiku yang terluka.

Tekanan tangan guru Zhang terasa membuat tulang kakiku remuk. Tapi setelah itu darah tak lagi merembes keluar. Sapu tangan hitam yang ternodai itu diikatkannya begitu kuat di kaki kiriku. guru Zhang dengan kuat mengangkatku berdiri.

Aidan rasa musuh sebatang bambu tak selemah Aidan, Aidan belum sekuat pendekar sabuk hitam.” Gerutuku sambil mencoba berdiri tegak dengan kaki kesakitan berbalut sapu tangan.

Ya, belum.” Tanggap Guru Zhang. “Waktunya berlari!” guru Zhang segera melesat cepat dengan kakinya yang selaksa tembaga itu dan meninggalkanku dengan kekacauan. Tanpa memperdulkan luka pada kakiku, aku berlari sekencang kilat menyusulnya.

Kilasan-kilasan hijau melesat di ujung kedua mataku. Aku masih berlari laksana panther dan bisa melirik pada guru Zhang dan mendahuluinya. Aku merasakan luka pada kakiku berdenyut-denyut, namun aku mencoba tak merasakanya dan terus memacu langkahku, lebih cepat dan lebih cepat.

Pada akhirnya ku rem langkahku. Selangkah lagi saja aku akan terjungkal ke jurang. Aku berhenti  dan menatap luas apa yang mengubah warna kornea mataku menjadi hijau. Tiga detik kedatanganku di tepi jurang aku bisa mendengar desahan nafas guru Zhang disampingku. Aku tidak tahu kenapa memutuskan untuk berhenti disisi jurang seperti ini. Kakiku tak terasa sakit lagi. Tapi suasana hatiku masih agak kacau.

Panorama di depan bola mataku adalah panorama luar biasa yang pernah ada. Samudra hijau membentang seluas dan sejauh mata memandang. Bisa disebut surga didepan mata. Kehidupan paling indah menjadi pengghuni hutan ini. Suara-suara binatang yang menyambut pagi terdengar nyaring dan menghibur hati. Semilir angin lembut menabrak wajahku dan guru Zhang penuh kesejukan. Matahari yang cerah tak menyakitiku ditengah hutan seperti ini. Aku tak bisa membayangkan tiba-tiba pemandangan ini terhapus. Aku tak kan memebiarkan apapun merusaknya. Aku bisa merasakan hidup yang sesunggguhnya ditengah dunia yang seperti ini.

Saya orang China, tapi sudah cukup lama jiwaku bersatu dengan belantara dunia selaksa surga ini. Setelah saya pergi, bisakah kau menjaganya agar tetap seperti ini? Aidin kau dan teman-temanmu akan menyatukan kekuatan dan menghidupi semua ini kan?” ku simak kata per kata yang jadi pertanyaan guru Zhang itu. Aku belum sepenuhnya menyambungkan keterkaitan hidup dan hutan. Aku hanya merasa ungkapan Abah dan  terlalu berlebihan.

kenapa?” tanyaku “kenapa Abah dan guru Zhang terlalu khawatir  bahwa suatu waktu hutan ini akan musnah? Aku cukup mengerti tentang fotosintesis yang mengasilkan oksigen segar. Tapi hal itu tak sebanding dengan nyawa dua orang. guru Zhang bisa melihat hutan ini masih hijau, hijau dan hiaju di mana-mana. Ada apa? Ada apa di balik semua kata-kata yang Aidin dengar?

fikiranmu kacau,” ya benar, batinku. guru Zhang melanjutkan “waktunya mandi di Cigure!” sahut guru Zhang bersemangat. Dan itu cukup membuatku tersinggung. Aku tetap memotret dalam memoriku paronama bentangan samudra hutan yang sangat luas ketika aku bisa mendengar langkah guru Zhang menjauhiku. Aku menelan ludah dan tertegun sesaat menyadari fikiranku memang benar kacau.

Mataku seakan tertancap pada panorama pagi ini. Kakiku tak mau beranjak dari batu besar yang ku pijak. Tapi hatiku bergerak mengikuti suara langkah guru Zhang. Aku segera berbalik, setelah membisikkan semoga jumpa lagi pada alam hutan yang tanpa lelah kupandangi. Kususul secepat mungkin langkah kaki guru Zhang yang bersuara karena mematahkan ranting-ranting pohon yang berserakan di tanah hutan yang bisa kau rasakan baunya. Aku telah berada satu langkah di belakang guru Zhang yang melangkah panjang dan cepat menuju air terjun Cigure.

Suara derasnya air terjun mulai menghibur gendang telingaku. Suara bisikan alam pagi, siulan dan tarian bambu, binatang yang bernada, semua menbuatku merasa damai. Aku bisa melihat air sungainya, terjunya berkelap-kelip di timpa sinar dewi pagi. Gairah untuk membebaskan jiwa meluap-luap membayangkan betapa segarnya tubuh ini ketika bisa menyatu dengan guyuran air murni dari alam. guru Zhang meloncat hinggap pada batu ditengah sungai. Matanya menerobos pada air yang terjun dengan fantastis.

Diatas sebuah batu yang snagt besar, ditengah derasnya air sungai yang megalir, guru Zhang berhenti lalu duduk bersila. Matanya ditutup dengan lembut dan ia menggabungkan kedua kepalan tangannya didepan dada. Semilir angin menyapu rambutnya yang tak beraturan didepan dahinya. Aku terpukau.

tak ada kehidupan tanpa hutan, tak ada kekuatan tanpa hutan, tak ada kedamaian tanpa hutan..” entah itu sebuah mantra atau apa tapi kata-kata itu begitu menghipnotis fikiranku, aku mulai faham.

Guru Zhang mengayunkan kedua tangannya kesamping dengan lihai. Tiba- tiba air sungai bergoyang mengikuti gerakannya yang melambai-lambai. Air itu merombak seakan tangan guru Zhang adalah angin yang biasa menggerakanya. Sangat menakjubkan.

kungfu.” Kata guru Zhang “mencakup semua aspek dari alam. Semua kehidupan, kekuatan, dan kedamaian berjantung pada hutan.”

Matanya terbuka, menatapku.

tidak maukah kamu mempelajarinya?”

Aku mengangguk mantap.

tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China

***

Bambu-bambu bergoyang-goyang. Mengeluarkan siulan yang mungkin bisa memebuat siapa saja tertidur. Kerlingan-kerlingan daunnya menjadi melodi merdu yang alami. Kurenungi dan kunikmati sepenuhnya barongan China ini. Hal yang membuatku lantas menghempaskan nafasku adalah bambu-bambu yang menguning Abah yang telah kutinggal selama lima tahun demi belajar kungfu. Abah yang telah mengizinkan dan merelakan diriku pergi dari tatapan matanya. Aku sudah bersabuk hitam dan aku adalah seorang pendekar kungfu. Aku mulai khawatir ketika daun-daun bambu barongan China gugur menghujani wajahku.

Aku harus pulang, firasatku tak mengatakan Abah baik-baik saja. Aku segera pergi menemui guru Zhang dan memohon untuk pulang.

Jadi aku segera menuju Bandara, Terbang, dan memikirkan barongan serta hutan Indonesia. Abah pasti akan terkejut melihatku sudah menjadi pemuda yang kuat. Aku tak bisa membayangkan seperti apa Abah sekarang.

***

Ku langkah pelan-pelan menapaki tanah hutan kampungku. Serasa ada yang menyenggol hatiku untuk menangis. Hatiku mulai bergetar dan aku melihat barongan menguning, tumbang, dan gugur daunnya. Aku berlari menuju petak tanah hutan yang dulunya berdiri rumah sederhanaku, tatkala aku mendapati dipetak itu tak ada satu tiangpun berdiri. Hanaya ada pembaringan terakhir bernamakan Abahku.

Aku berlutut, menjerit. Mataku terasa ingin mencuat keluar. Ku pukul – pukul gundukan tanah dihadapanku. “Abaaaahhh…. Kembalilaaahhh !!!” suaraku menggema, seluruh alam diam menatap iba kepadaku.

Pasti ada yang tidak beres dengan hutan disini. Pasti ada yang menyentuh barongan ini dengan biadap. Kutajamkan telingaku, lalu aku bisa mendengar suara mesin yang menyiksa pohon–pohon di hutan. Aku bisa mendengarkan jeritan tumbuhan – tumbuhan itu.

Aku segera berlari mengejar bunyi mengerikan ini. Sekuat tenaga kepacu langkahku meski aku merasa tenagaku mulai melemah. Kemudian aku mendapati buldoser sedang menghancurkan baronganku. Gergaji-gergaji mesin memenggal kawan-kawan pohonanku. Aku membara.

Kulihat wajah-wajah penghancur itu. Dan hal yang menyedihkan dan begitu naas adalah aku mengenal mereka sebagai teman lamaku. Teman-teman satu padepokan silat guru Zhang. Aku tertegun bukan main.

Tapi amarahku menyala-nyala. Kuhantam tinju-tinjuku ke tanah meretak. Semua panik lalu menengok kearahku yang berapi-api. Tanah barongan membelah, dan bergetar. Seakan tiba-tiba gempa melanda tempat yang tak seharusnya

Belahan tanah itupun segera memakan buldoser-buldoser bodoh itu. Tapi para pengendalinya telah menghindar. Kemudian mereka berdiri dihadapanku dengan kuda-kuda siap menyerang. Kusunggingkan senyum kecut yang mereka semakin memperkuat pijakan mereka.

Barongan mulai menggugurkan ribuan daunnya diatas kepalaku. Saatnya mereka tumbang. Kutangkap kedamaian yang terpancar pada hutan-hutan, bersiap mengendalikan alam. Kuayunkan tanganku seperti guru Zhang. Tapi agak cepat dan ribuan pohon bambu yang mengelilingi mereka tumbang. Mengubur mereka hidup-hidup.

Tak ada bambu berdiri. Tapi pepohonan lain masih berdiri dengan kokoh. Tubuh dan jiwaku melemah. Aku bagai kehilangan jantung menyadari bahwa kini aku hanya pemuda sebatang kara. Tak ada Abah, dan tak ada bambu. Aku lalu berlari ke Cigure, duduk bersila diatas batu besar yang pernah diduduki guru Zhang ditengah aliran sungainya. Aku bertapa, meresapi kedamaian yang berterbangan disekelilingku, menunggu barongan itu menghijau kembali. (Tatiana Zhia Sarin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *