Pesantren kini menjadi lembaga pendidikan yang makin dilirik masyarakat. Minat orang untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan asli Indonesia ini cenderung meningkat seiring banyaknya pesantren yang telah memodernisasi diri, di samping munculnya pesantren-pesantren baru yang lebih modern.

Pesantren adalah lembaga pendidikan berasrama yang siswanya tidak hanya belajar tapi juga tinggal di dalamnya di bawah bimbingan guru, pengasuh atau kiai. Secara tradisional, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam konvensional, namun banyak dari pesantren yang kini telah menjadi modern dan bahkan memiliki kualitas pendidikan yang tidak kalah dari sekolah biasa. Istilah kerennya, lembaga pendidikan ini disebut boarding school.

Kehadiran pesantren modern setidaknya telah menjadi jawaban bagi sebagian kalangan yang merindukan model pendidikan yang utuh. Yakni, yang mengintegrasikan antara pendidikan agama dan umum, antara pengembangan intelektualitas dan pembentukan kepribadian luhur, dalam sebuah kesatuan yang utuh.

Selama ini pendidikan di tanah air cenderung timpang karena berdiri di antara dua kutub. Di satu sisi, ada sistem pendidikan tradisional –yang direpresentasikan oleh pesantren lama— yang cenderung berkutat pada pendidikan agama, namun kurang peduli pada pendidikan umum. Di sisi lain, sistem pendidikan nasional yang dikembangkan pemerintah –yakni sekolah— cenderung kuat dalam pendidikan umum (sains, matematika, teknologi, seni dan olahraga), namun lemah dalam pembinaan moral-mental-spiritual. Akibatnya, banyak siswa terjerembab dalam kenakalan dan dekadensi moral meski telah makan banyak bangku sekolah.

Kehadiran pesantren modern dianggap menjembatani kesenjangan antara dua kutub tersebut. Selain mengajarkan ilmu umum, pesantren modern juga mengedepankan pendidikan agama dan moral sebagai ciri khas pendidikan pesantren. Kekuatan dalam pembinaan agama, di samping perhatiannya yang tidak kalah pada pendidikan umum, menjadi alasan mengapa pesantren moden banyak dipilih masyarakat. Orangtua yang sadar akan pentingnya pendidikan agama tidak akan tega membiarkan anaknya kering dari pendidikan agama, sehingga akan memilih pesantren daripada sekolah non-pesantren. Itu keunggulan yang pertama.

Kedua, pesantren menawarkan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan. Di pesantren, siswa hidup bersama teman-temannya dalam lingkungan yang diciptakan untuk pendidikan. Siswa melaksanakan berbagai aktivitas yang telah diprogram untuk peningkatan kualitas diri mereka, baik di bidang akademis maupun non-akademis, dalam kegaitan persekolahan maupun ekstrakurikuler. Di dalam pesantren pula, siswa mendapatkan bimbingan, binaan dan pengawasan dari kiai, pengasuh dan para guru (asatidz). Suasana kehidupan keagamaan di pesantren juga sangat kuat, sehingga menunjang pembinaan mental-spiritual anak secara “lebih baik” daripada lingkungan keluarga atau masyarakat.

Sekilas, pesantren memang mirip "penjara". Namun, ia bisa menjadi solusi tepat bagi mereka yang menghawatirkan pengaruh negatif lingkungan masyarakat. Dewasa ini masyarakat menawarkan kondisi yang tidak semuanya positif bagi pendidikan. Sebagian bahkan rawan menimbulkan problem disorientasi pada anak yang memang rentan terhadap godaan. Fenomena kenakalan remaja, pergaulan bebas, premanisme, minuman keras, dan narkoba adalah hal-hal yang dapat mengganggu proses pendidikan anak. Bila orangtua tidak waspada, hal-hal tersebut dapat menjerumuskan anak ke lembah kenistaan, atau malah menjadikan mereka kehilangan masa depan.

Ketiga, pesantren membentuk kepribadian siswa untuk menjadi manusia yang tangguh dan berkarakter. Pembinaan mental cukup kuat di pesantren. Di pesantren siswa dilatih untuk hidup sederhana, mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Suasana kebersamaan juga akan melatih siswa untuk mudah bersosialisasi dengan siapapun dan dari latar belakang apapun. Beberapa pesantren bahkan memiliki siswa dari berbagai daerah. Ini tentu akan memperkuat pendidikan multikultural sekaligus memperluas jaringan pergaulan siswa di kemudian hari.
Pendidikan yang baik tidak hanya mengembangkan aspek intelektualitas, tapi juga mentalitas dan spritualitas. Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya yang 80% ditentukan oleh serumpun faktor yang disebut Kecerdasan Emosional (EQ). Ini artinya, faktor mentalitas lebih besar pengaruhnya terhadap keberhasilan seseorang daripada intekektualitas, meski kedua-duanya juga penting. Pendidikan di pesantren mengasah kedua kecerdasan tersebut. Bahkan, ditambah lagi dengan kecerdasan spritual.

(oleh Agus Salim Syukran, Kepala MA Al-Ishlah Sendangagung. artikel pernah dimuat di majalah Matan edisi Juni 2009)