Maafkan aku ibu

Senja telah berganti malam cahaya terang terganti oleh sinar putih bundar, bulan itupun nampak dan menerangi kegelapan, udara dingin menepis tubuh terlihat dari kejauhan sosok yang berjalan pontang-panting menuju kediamannya. Kuperjelas pandanganku dan sudah kuduga dia adalah Andi sosok yang terkenal keras kepala, penjudi, dan peminum. Brakk. . “masyaAllah andi, dari mana saja kau nak ?” teriak histeris seorang separuh baya itu matanya berkaca-kaca jeritan hatinya menangis melihat seorang anak sematawayangnya pulang dengan keadaan babak belur dan mabuk.

                                                            *****

Pagi menyambut dengan matahari yang tersenyum menyapa, dengan semangatnya ibu separuh baya itu yang biasa akrab dipanggil ibu sundari menyiapkan sarapan untuk andi anak sematawayangnya. “Ibu” sapa andi menuruni anak tangga “iya nak” ibu sundari tersenyum “ibu, andi mau bekerja andi gak mau nyusahin ibu lagi, andi sekarang sadar andi gak pernah bisa bahagiain ibu dan sering membuat ibu marah”

“Alhamdulillah ya Allah” tanpa sadar ibu sundari langsung sujud syukur atas kesadaran andi. “andi mau ikut temen andi ke hongkong bu !”

“andi kenapa jauh sekali nak ?”

“namanya juga kerja buk, andi minta uang untuk tiket transfernya. Ibu ada uangkan ?”

“ya sudah emang andi kerja apa ? kalo andi mau berubah insyaallah ibu akan usahakan”

“andi ikut kerja di kantor papanya temen andi, udah ibu gak usah kawatir sama andi disana andi pasti sukses kok bud an bisa bahagiain ibu nantinya”

“Alhamdulillah, baiklah nak besok ibu akan mengambil uang tabungan dan kalo kurang ibu juga akan menjual perhiasan peninggalan ayah kamu” andi tersenyum mendengar perkataan ibunya “beneran bu ?” lalu ibu andi mengangguk dan tersenyum, senyuman bu sundari sangatlah bahagia bu sundari menyadari bahwa doa yang selama ini ia minta telah dikabulkan oleh sang maha kuasa. “yaAllah semoga engkau lindungi anakku dimanapun ia berada” bu sundari dengan tangisnya ia bersujud dan berdoa.

                                                            *****

Pagi, 22 Juni 2012

“eh katanya si andi udah tobat tuh, denger-denger mau merantau ke hongkong juga” beberapa ibu-ibu membicarakan masalah andi “beneran buk?” tanyasalah satu ibu di warung “eh jangan-jangan dia membohongi ibunya lagi”

“hush. . ! jangan su’udzon dulu bu, mungkin niatnya emang baik mau bertaubat Alhamdulillahlah” melihat ibu-ibu yang membicarakan anaknya, ibu sundari yang tadinya memilih sayur langsung menghampiri ibu-ibu itu. “ibu sundari apa betul andi sudah berubah dan mau merantau ?” tanya bu mina “Alhamdulillah bu, berkat pertolongan Allah dan ridhonya anak saya dibukakan pintu hidayahnya”

“syukurlah bu” mereka mian bersyukur dengan perubahan baik pada diri andi termasuk ibu sundari.

Malam, 22 Juni 2012

Andi menemui temannya di CAFÉ SLOW dua orang duduk sambil bercakap, tak lama kemudian andi datang dan menyampari mereka “gimana bro ?” andi menyodorkan 1 amplop yang berisi uang tunai sebagai bayaran. Ternyata andi yang dulu pembohong tetap menjadikan dirinya pembohong dan munafik, setega itu ia membohongi ibunya dengan memalsukan dokumen-dokumen dan berkas termasuk tiket kerja menuju hongkong agar ibunya percaya dan memberinya biaya dan uang saku untuk keberangkatannya merantau, padahal keinginan andi hanyalah tiket berlibur ke AS bersama kekasihnya.

                                                            *****

(04.00) 23, Juli 2012

Adzan shubuh berkumandag suasana hening dan sejuk, para jamaah sholat shubuh mulai memnuhi shof begitu juga ibu sundari yang merapikan mukenahnya untuk persiapan pergi ke masjid.Saat itu ibu sundari tersentak kaget hatinya bahagia melihat andi berpakaian taqwa rapi siap berangkat ke masjid. “andi !” sapanya “iya bu, mari kita berangkat” andi langsung menggandeng tangan ibunya berjalan menuju masjid. “ya allah engkau telah mudahkan jalan anak hamba dalam menuju kebaikanmu, semoga amal ibadahnya selalu engkau terima amin”

Pagi, tepat pada pukul 06.00 andi menyiapkan barang-barangnya sebagian pakaian dan alat backpaking ia masukkan tas tak lupa tiket ke AS dank ado andi siapkan tadi malam untuk kekasihnya. “nak sudah bawa al-quran ?” tanya ibunya “emh,, iya sudah bu” andi berpura-pura melihat tasnya agar ibunya percaya padahal di dalam tasnya andi hanya ada peralatan backpacking ke AS. “jangan lupa mengaji ya nak, meskipun sesibuk apapun pekerjaanmu.” Pesan ibu “ iya bu, doakan andi ya semoga andi menjadi hamba allah yang mulia dan dilancarkan rezekinya” lalu ibu sundari mengamininya. Lalu andi berjalan menuju kamar mandi karena ia ingin siap-siap lebih awal, andi sudah tak sabar untuk melakukan backpacking dan bertemu kekasihnya di AS, di sela itu ibvu sundari merapikan kamar andi dan menemukan dokumen-dokumen yang andi lihatkan ke ibunya tadi malam, ibu sundari merapikan dan membawa dokumen itu ke dalam tas andi, saat membuka tas ibu sundari sangatlah kaget hatinya tergoyah ingin rasanya ia murka terhadap andi, ia menemukan tiket liburan ke AS sekarang ibu sundari mengerti andi hanya berbohong dengan memalsukan dokumen dan berkas- berkas. Tanpa segan ibu sundari langsung membuang tiket itu ke lantai tanpa di ketahui andi datang dengan berpakaian rapid an bertanya kepada ibunya. “ada apa ibu ?” dengan geramnya “andi kamu membohongi ibu nak”

“apa ini. . .apa nak. . ?” ia menyodorkan tiket itu ke muka andi tangisnya tak tertahan lagi air matanya keluar dengan sendirinya, andi tak segan meraih tiket itu dan pergi dari rumah, tapi ibunya mencegah andi agar tidak pergi tapi andi tetaplah ngotot tangan andi dipegang ibiunya, tanpa belas kasihnya andi langsung membanting genggaman ibunya sampai terjatuh tersungkur di lantai. “andi tidak ada waktu banyak bu” tapi andi langsung pergi tanpa mendapat ridho dari ibunya. Saat itu bu sundari mengambil air wudlu dan menunaikan sholat dhuha, ia berdoa untuk keselamatan anaknya. “ya allah apa salah hamba sampai seginikah anak hamba memperlakukan ibunya, ya allah ampunilah dosanya dan slamatkanlah ia”

                                                            *****

Bandara AS, 25 Juli 2012

Sampai di bandara andi mencari sosok ia cari marisha kekasihnya, dari kejauhan matanya menuju satu titik tujuan, marisha datang menghampiri andi senyum kegembiraan terpancar dari mata dan lubuk hati andi ia menyapa marisha dan memberi salam rindu untuk marisha tapi ekspresi dan wajah marisha tidak bertengger sedikitpun rasa bahagia bisa bertemu dengan andi, andi merasa tidak enak dengan keadaan itu tapi andi berfikir mungkin perasaannya saja, tanpa basa basi andi membuka ranselnya ia memberikan bunga dan kado sebagai tanda kasih sayang andi pada marisha, kado itu di terima marisha tapi tak sepatah kata terucap dari mulut marisha hanya ucapan “thanks an” itupun sudah membuat andi senang. “marisha, andi kangen sama kamu !” tapi marisha hanya terdiam “kamu kenapa mar?”

“andi, sebenarnya aku mau ngomong sama kamu. Aku sudah punya pengganti kamu rasa cinta ini sudah hilang saat kamu jauh dari aku.”Deg.. begitu hancur hati andi, tapi mau tidak mau andi harus menerima keputusan ini “apa maks. . .” belum sempat andi bicara panjang sosok berbadan kekar menghampiri marisha, andi kesal melihat kelakuan marisha tanpa menunggu lama marisha langsung mengambil langkah dan meninggalkan andi tanpa berpamitan. Andi berteriak kencang melihat kepergian marisha “Agrrrh.What do you meanmarisha. . . aku sudah bersusah payah datang kesini untuk bertemu kamu, dan aku juga membohongi ibuku demi kamu, agrrh. . . dasar penghianat kau marisha. .”

Di suatu ketika di perumahan VILLA JONS dekat dengan taman andi termenung dibawah pohon ia merasa berdosa dengan ibunya, ia menyesali perbuatan yang ia lakukan. “kenapa aku tidak menuruti perkataan ibu, mengapa aku memilih kekasihku dan dia malah pergi dengan cowok lain.” Air mata menetes perlahan di pipi andi rasa bersalah menghantui diri andi, andi berharap bisa menebus semua kesalahannya pada ibunya. Udara semakin dingin andi memutuskan untuk masuk ke dalam villa yang ia sewa, sampai di kamar diambilnya seciduk air wudlu rasa sejuk dihati andi muncul ia menunaikan sholat dan berdoa. “ya allah ampuni andi, andi memang bukan hamba yang baik. Hamba hanyalah insan yang berlumur dosa, kotor dan munafik. Bahkan hamba tidak pantas untuk hidup, apa hamba pantas engkau ampuni atas semua kelakuanku terhadapmu termasuk kedurhakaanku pada ibu” tumbulah kesadaran dalam diri andi ia berjanji ingin bertaubat dan menebus kesalahan terhadap ibunya.

                                                            *****

Ibu Sundari,

Semenjak kepergian anakku, aku hanya hidup sebatang kara mencari untuk diriku sendiri, tiada kabar yang bisa aku dapat dari anakku. Sungguh rasa rindu selalu tumbuh dan menjalar dalam hati ini, kesepian yang aku alami membuat hari-hari menjadi kelabu, usia yang semakin hari memakan ragaku tak kuasa air mata ini untuk mengalir setiap harinya. Dimanakah kamu nak, masih ingatkah kamu dengan ibumu semoga tuhan selalu melindungimu, ibu selalu menunggumu kasih sayang serta doa selalu terpanjatkan untukmu andi anakku.

Andi,

Tak pernah ku sangka aku bisa bangga dengan diriku sendiri berkat doa ibu serta hidayah dari tuhan aku bisa seperti ini. Collage al-ikhlas new York aku memutuskan masuk ke pesantren itu sejak pertemuan terakhir dengan kekasihku dan aku sadar akan diriku aku tidak berani pulang sebelum aku bisa menebus semua dosa-dosaku terhadap ibu. Alhamdulillah sekarang aku menjadi orang yang benar dijalan Allah, agama islam aku pegang dengan teguh dan profesi ustadz sekarang ada dalam diriku. Aku mengajar di pesantren berkat pertemuanku dengan kiyai Ibrahim di masjid akbar tahun lalu. Aku banyak belajar agama dengannya dan aku memutuskan bulan depan akan pulang dan menebus dosaku pada ibu.

                                                            *****

Bandung, 3 September 2014

Andi,

“Assalamualaikum” hatiku berdebar saat kakiku melangkah di halaman rumahku terasa asing bagiku dua tahun lamanya aku meninggalkan rumah ini, apakah ibu masih berada dalam rumah ini ataukah. . . Astagfirullah, aku tidak boleh suudzon seperti ini, tapi mengapa di balik pintu tidak ada jawaban ?ku ulangi sekali lagi “Assalamualaikum”

“waalaikumsalam huks. . hukkk”terdengar  suara batuk ibu dan pintu itu terbuka, bau khas rumah itu tetap sama. Wajah ibu terlihat pucat dan lesu tapi pancaran cahaya di wajah ibu tetap terlihat, ibu kaget saat aku datang “masyaallah, andi” ibu memeluk erat ragaku. Kasih sayangnya masih terasa sama seperti dulu “ibu maafkan andi, selama ini andi tak pernah mendengarkan perkataan ibu. Sekarang andi tersadar dan menjadi seperti ini berkat doa ibu dan ridho dari allah”

“iya nak, ibu sudah memafkanmu dari dulu, ibu merindukanmu andi”

“ibu, andi mau menebus semua kesalahan andi. Andi sudah memesan dua tiket untuk andi dan ibu atas panggilan allah minggu depan kita berangkat ke tanah suci makkah”

“Alhamdulillah, terimakasih ya allah andi ibu yakin kamu memang anak yang sholeh dan kamu memiliki niat untuk berubah kejalan allah”

“itu semua berkat ibu” aku mencium kaki ibu dan memeluknya, lalu ia membangunkanku.

Makkah,10 Dzulhijjah 1435

23, September 2014

Puji syukur selalu terucap dalam lubuk hati ini, Alhamdulillah Allah memberikan keselamatan dalam perjalananku bersama ibu.“Labbaik allahumma labbaik.  . .. .”

Ya Allah sang maha kholiq . . . engkau telah memberikam kesempatan dalam panggil;anmu ini bersama ibu hamba, hamba serahkan semuanya padamu ya Allah . . . , semoga seluruh dosa telah engkau hapuskan ya Robb . . hanya kepadamu hamba memohon dan hanya kepadamu hamba kembali. Sambil mengucap takbir ku lantunkan doa kepada sang ilahi.

                                                              *****

            Ketika itu suara gemuruh terdengar dengan tiba-tiba, membuat doa-ku terhenti seketika.Pembangunan yang dilakukan di makkah ini ternyata tidak berjalan dengan selarasnya, tiba-tiba disalah satu alat bangunan yang berada diatas atap ka’bah iyu terjatuh dan menimpa banyak korban haji, sehingga puluhan bahkan ratusan korban luka-luka bahkan meninggal dunia. Darah segar itu menetes di pelipis kepala ibuku, tak kuasa aku menahan diri, ragaku bergetar kencang melihat sosok malaikatku terjatuh tertimpa bangunan itu. “ibu . . . .” dengan sekuat tenaga aku menerobos orang di sekeklingku, kuraih badan ibuku, jeritan minta tolong terlontarkan keras-keras. Ibu dan para korban lainnya diamankan dan dibawa ke rumah sakit .tangisku meledak ketika ku lihat sosok wanita cantik yang ku cintai terbaring dan tak bernyawa “innalillahiwainnalillahirojiun”

            Ibu kau adalah malaikat paling mulia yang pernah aku miliki, hatimu yang suci bagaikan permata itu, maafkan anakmu yang pernah mendustai hatimu, wajahmu yang selalu memiliki pancaran cahaya itu mampu menumbuhkan aura sejuk pada orang disekitarmu termasuk aku ibu. Ibu kau bagaikan malaikat permata yang tak ternilai harganya, kau adalah anugrah bagiku dan sekarang tibalah waktunya malaikat izrail menjeput ibu, maafkan semua kesalahan andi ibu. Semoga Allah SWT memberi ibu tempat yang paling istimewa nan indah di surganya. Amin. . .

                                                            THE END

Oleh: Cahya Lupita Ulum Sari

(dari: MA Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan)

2 thoughts on “Maafkan aku ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *